TEDxTugu Pahlawan : “The Road Less Travelled”

Sabtu (12/12/15) pagi, langit mendung menyelimuti langit Surabaya. Tapi, ketika menjejakkan kaki di pintu gerbang Tugu Pahlawan, ada kehangatan yang terasa. Tak hanya karena semangat anak-anak kecil yang sedang tur mengelilingi tempat bersejarah itu, tapi juga karena semangat TEDster yang sedang registrasi ikut menular. Langkah-langkah ceria para peserta saat memasuki ruang auditorium Tugu Pahlawan, serta kesibukan para tim internal TEDx yang menyiapkan segara keperluan agar acara berjalan lancar, seolah menandingi suasana kelabu di luar gedung.Para TEDster langsung dibuat terkesima oleh aksi band Silampukau yang hadir sebagai salah satu pengisi acara.  Alunan Lagu Rantau yang teduh namun ceria, seakan makin menyemarakkan suasana. Band indie folk asli Surabaya ini memang selalu berhasil memukau para penggemarnya. Sayang, kali ini karena padatnya jadwal acara, kami tidak bisa berbincang-bincang dengan Silampukau untuk waktu yang lama mengenai kegiatan mereka.Nah, setelah proses registrasi rampung, acara utama pun dimulai: para pembicara inspiratif yang diundang, siap membagikan kisah mereka.
Lalu Abdul Fattah

Pembicara pertama kita ini adalah si brilian di balik buku “Travelicious Lombok”, yang juga merupakan penggagas dibentuknya grup Lombok Backpacker. Tak hanya kesan rendah hati dari Mas Lalu yang membuat TEDster kagum, tapi juga motto “Kalau kau merasa miskin, jalan-jalanlah!”. Pemuda ini kemudian mengisahkan awal mula ketertarikannya pada dunia penulisan.

Sejak kecil, Lalu memang gemar membaca. Ia melalap habis buku-buku yang ada di rumahnya, termasuk yang ia pinjam dari tetangga dan sekolah. Lama-kelamaan, hobi membacanya itu mendorong pemuda kelahiran Lombok Timur ini untuk menulis. Karena kemampuannya dalam penulisan kian terasah, Lalu menuangkan ide-ide dan ceritanya dalam blog. Salah satunya adalah tentang fitur perjalanan. Suatu hari, kegemarannya itu justru memperkenalkan laki-laki kelahiran 1988 ini dengan editor Laskar Pelangi, Imam Risdianto, di Jogja. Beliaulah yang menantang Lalu untuk menuliskan buku perjalanan tentang Lombok. Dengan niatan ingin menunjukkan Lombok sebagai tempat pariwisata yang menarik, sekaligus langkah awal menembus penerbitan besar di Indonesia, Lalu menyanggupi tantangan tersebut. Lahirlah buku “Travelicious Lombok.”

Selang beberapa kurun waktu kemudian, Lalu menggagas terbentuknya grup Lombok Backpacker, wadah untuk menyediakan informasi terbaru mengenai wisata Lombok. Hingga kini, anggotanya telah mencapai 12.000 orang. Dengan tim yang solid, selain berbagi informasi yang relevan tentang kegiatan melancong di Lombok, grup ini juga meneruskan misinya dalam bidang sosial dan edukasi. Salah satunya adalah dengan pelatihan menulis. Lalu dan teman-temannya menyemangati anak-anak muda untuk menulis tentang daerah asal mereka. Sampai sekarang, Lalu masih aktif menjadi mentor menulis di Indonesia Writing Edu Center, juga sebagai pembimbing klub jurnalistik dan ekstrakurikuler menulis di beberapa sekolah

Tavie Hadiez

Kisah pembicara kedua ini juga tak kalah menarik untuk diikuti. Presentasinya langsung dibuka dengan kata mutiara, “Everything Starts with a Dream”. Berawal dari mimpi pergi ke luar negeri walaupun tanpa uang yang banyak, Mbak Tavie bisa menjadi seseorang yang sedang memberikan presentasi kepada para TEDster sekarang. Begitu lulus sekolah, perempuan asli Borneo ini nekat merantau ke Jawa, yang  justru membuatnya berlayar menggunakan kapal Nippon Maru dan bertemu dengan orang-orang hebat. Ia kemudian bekerja di kedutaan asing, di mana saat itu, Tavie sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Namun, dengan sifat yang selalu ingin belajar, Tavie pun perlahan-lahan berhasil menguasai bahasa penghubung utama di dunia itu.

Pengalaman itu memompakan semangat padanya, bahwa ia bisa pergi ke manapun yang ia mau, asal dirinya sungguh-sungguh berusaha. Tavie menegaskan bahwa ia tak pernah menggunakan jasa agen perjalanan, karena ingin menikmati proses travelling yang utuh. Baginya, detil itu membuatnya mampu merasakan sensasi yang lebih menyeluruh dalam sebuah perjalanan. Saat hendak melakukan perjalanan, perempuan ini selalu mengurus visa, paspor, dan keperluan lainnya sendirian. Selama di luar negeri, berbagai kejadian ia alami. Mulai dari paspor yang sering tiba-tiba hilang, kecopetan di Paris, tersesat di tengah kota, hingga tertipu oleh orang yang pura-pura menawarkan bantuan, telah menjadi hal yang membuat pengalamannya lebih kaya. Tavie juga menceritakan perjalanan yang ia tempuh dari West Coast ke East Coast, Amerika Serikat, selama sebulan; serta kecintaannya pada Belanda. Menurut Tavie, dengan banyaknya perjalanan yang kita lakukan ke daerah asing, akan semakin banyak pelajaran yang bisa kita peroleh.

Anitha Silvia

Sosok Anitha mungkin bisa mengecoh: mungil dan kalem. Namun, siapa sangka, di balik itu semua, ada kegigihan yang luar biasa. TEDster lagi-lagi dibuat terpana dengan motto Anitha: “Tubuh kita didesain untuk berjalan kaki”. Anitha Silvia adalah penggagas program “Manic Street Walkers”, sebuah kegiatan yang menyerukan serunya blusukan di sudut-sudut kota Surabaya dengan berjalan kaki. Anitha menjelaskan, salah satu cara untuk mengeksplor keindahan Surabaya adalah dengan berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil kota ini. Melalui kegiatan tersebut, kita bahkan juga dapat berbagi keceriaan dengan penduduk setempat serta teman-teman program “Manic Street Walkers” lainnya.

Walaupun terkadang kondisi cuaca di Surabaya bisa menjadi penghalang, Anitha menegaskan bahwa hal itu tidak menjadi alasan untuk berhenti berjalan kaki. Kita toh dapat mengakali semua itu dengan alat-alat yang memudahkan kita, seperti sepatu yang layak, jas hujan, payung, dan sebagainya. Aksi berjalan kaki ini juga sebenarnya bersifat dinamis, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada. Selain dapat bersenang-senang melihat tatanan kota yang cantik, kita juga bisa melakukan napaktilas ke lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya lho. Tubuh bugar, jiwa pun segar!

Selama acara berlangsung, para peserta tak hanya dijamu dengan ide-ide istimewa dari ketiga pembicara itu lho. Mereka juga dimanjakan dengan sajian jajanan pasar dan semanggi yang merupakan makanan khas Surabaya. Tak hanya itu, TEDster yang memenangkan lomba “Iki Lho Suroboyo” juga mendapatkan hadiah berupa voucher dari kafe Oost Koffie & Thee.

Nah, untuk TEDster yang kemarin belum bisa hadir, tunggu acara kami berikutnya ya. Akan ada lebih banyak lagi informasi menarik dari para pembicara spektakuler lainnya. Sampai ketemu di kesempatan lain ya!

“Trust me, People with Ideas will change the future !”

 

-Aya Prita Belia x Inez Kriya

 

1450360422879

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1450360427022