Komputer Akan Sepandai Manusia di Tahun 2029

Manusia dan Komputer, kedua hal tersebut pada zaman seperti ini mempunyai keterikatan yang kuat, yang mana banyak manusia yang berpikir bahwa aka nada dimana kekuatan komputer yang melebihi kekuatan manusia. Contohnya seperti ide mesin superpintar mungkin terdengar hanya terjadi pada film saja seperti pada film “The Terminator” atau dalam film “The Matrix”. Itu semua bisa saja terjadi dan banyak ahli-ahli ang meyakini itu akan terjadi cepat ataupun lambat.
Para ahli meyakini bahwa singularitas atau saat kecerdasan buatan menyamai atau bahkan melebihi dari manusia, bisa terjadi dalam jangka waktu kurang lebih 14 tahun lagi. Tapi banyak pula ahli yang berpendapat bahwa untuk mengenai kapan dan bagaimana singularitas akan terwujud.

The Future Human Computer InteractionThe Future Human Computer Interaction diambil dari : www.activerain.trulia.com

Beberapa orang pun mempercayai bahwa manusia pun dapat melampaui keterbatasan fisik diri mereka sendiri dengan bantuan sebuah mesin. Dan ada pun yang berpikir bahwa manusia itu sendiri akhirnya akan meninggalkan atau melepaskan kemampuan mereka sendiri dan secara step by step diserap dalam kecerdasan buatan berbasis organisme, seperti energy membuat mesin didalam sel manusia itu sendiri.
Seorang futuris bernama Ray Kurzweil, dalam bukunya “The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology”, memprediksi bahwa pada tahun 2029 komputer akan sepandai manusia dan pada tahun 2045, komputer dapat miliaran kali lebih hebat dan pintar dari kecerdasan manusia tanpa bantuan apapun.

“Perkiraan saya tidak berubah, tapi pandangan konsesus ilmuwan kecerdasan buatan telah berubah menjadi lebih dekat dengan pandangan saya,” tulis Kurzweil
Ilmuwan komputer di University of Wisconsin-Madison, Bill Hibbard tidak berani memprediksikan hal tersebut. Tapi Hibbard mempercayai bahwa kecerdasan buatan akan melebihi berkali-kali lipat pada abad ke-21.
Bahkan jika tebakan paling pesimis saya adalah benar, itu akan terjadi selama masa orang yang sudah lahir” kata Hibbard.

future technologyFuture Technology diambil dari indulgy.com

Sedangkan peneliti kecerdasan buatan lain skeptic dengan ide yang mengatakan mesin yang melampaui kecerdasan manusia.
“Saya tidak melihat tanda-tanda bahwa kita dekat dengan Singularitas” kata ilmuwan komputer di New York University, Ernest Davis.
Ia mengatakan karena itu intuisi fisik, manusia dapat menonton seseorang membatalkan secangkir kopi dan hanya tahu bahwa hasil akhirnya akan menjadi genangan air di lantai.
Sebuah program komputer, disisi lain, harus melakukan simulasi melelahkan dan mengetahui ukuran yang tepat dari cangkir, ketinggian cangkir dari permukaan dan berbagai parameter lain untuk memahami hasilnya. Hibbard menambahkan, setelah singularitas terwujud, orang pun tidak akan mati. Manusia dapat memperbaharui pada bagian sibernetika mesin tersebut.
Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan asalkan secara fisik mungkin dan tidak membutuhkan terlalu banyak energi” ujar Hibbard.
Menurut Hibbard, kekhawatiran lainnya, adalah ketika manusia menuju masa depan yang menghilangkan pekerjaan. Misalnya mobil yang bisa menyetir sendiri, dapat meningkatkan keselamatan, tetapi juga menempatkan jutaan pengemudi truk keluar dari pekerjaan.
“Sejauh ini tidak ada orang yang berencana untuk kemungkinan tersebut” kata Hibbard.
Sebaliknya, saat mesin telah sepandai manusia menurut Robin Hanson, ekonom George Mason University di Washington DC, ekonomi akan berlipat ganda setiap bulan atau minggu. Ini telah terjadi pada singularitas sebelumnya yakni revolusi pertanian dan industri.

Review TEDxTuguPahlawan Salon – #NOFILTER

2Sebuah lensa kamera memang tidak akan pernah bisa sempurna dalam menggantikan mata ciptaan Tuhan. Namun melalui kamera seseorang dapat berbagi kepada orang lainnya atas apa yang telah lihat, dimana orang lain mungkin tak dapat melihat hal yang sama.Untuk itu salon yang diorganisir TEDx Tugu Pahlawan pada hari Sabtu, 18 April 2015 mengangkat kisah seputar manusia dan hubungannya dengan kamera menjadi sebuah bahasan yang menarik dan menginspirasi. Salon yang di adakan di Borneo Room, Intiland Tower tersebut menghadirkan 3 pembicara yang sangat ‘akrab’ dengan kamera. Panasnya cuaca Surabaya dan isu terjadinya demo yang dilakukan oleh pendukung tim sepakbola Persebaya tidak menyurutkan semangat para audience untuk menimba ilmu dari para narasumber.

Salon dibuka dengan pemaparan dari Louis Geraldo, pemilik Louis Geraldo Photography. Yang menjadikan studio milik beliau istimewa adalah Bapak Louis konsisten menggunakan kamera analog di era digital seperti ini. Menurut beliau ada sesuatu yang tidak tergantikan dari sebuah kamera analog, yakni detail dan kesan natural dari tiap hasil jepretannya. Dan tidak adanya fitur preview pada kamera analog membuat proses pengambilan gambar menjadi lebih menantang karena beliau baru bisa mengetahui hasil jepretannya setelah film dicuci dan kemudian dicetak.

Idealisme Bapak Louis agar konsisten dalam menggunakan kamera analog, memiliki banyak ‘biaya’ yang harus dikorbankan. Seperti tingginya biaya yang harus dikeluarkan, kamera analog yang tidak dilengkapi fitur pengaturan cahaya menyebabkan beliau harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli perlengkapan lighting yang mumpuni. Selain itu menurut beliau, jika ingin menggunakan kamera analog seseorang harus memiliki skill yang bagus dan mental yang kuat. Namun itu semua akan terbayar dengan kepuasan yang didapat setelah foto selesai di cuci cetak.

Pembicara kedua adalah Dian Savitri dari Komunitas Leica Indonesia. Kegemaran Ibu Dian dalam mengambil gambar dimulai dari sang ayah, beliau meneruskan hobinya tersebut pada mulanya semata-mata untuk mengabadikan putra-putrinya dari sana beliau mengetahui bahwa sebuah gambar bisa bercerita banyak. Yang menjadikan hobinya istimewa adalah beliau memilih untuk akrab dengan kamera Leica, sebuah kamera yang terkenal dengan keunggulannya dalam menonjolkan detail dan warna dalam setiap hasil jepretannya tanpa perlu melalui proses editing yang berlebihan. Kamera Leica bukanlah sesuatu yang baru di dunia fotografi, konon foto pidato Bung Tomo pada tahun 45-an diambil dengan kamera Leica.

Hasil foto kamera Leica yang kaya akan detail, ternyata sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memilkinya. Sebuah kamera leica ‘biasa’ bisa mencapai harga diatas Rp 5,000,000,00, belum lagi untuk kamera yang memliki keunggulan lebih. Menurut Ibu Dian sudah banyak orang Indonesia yang memiliki Leica, namun tidak semua orang mengetahui cara memakainya, untuk itulah Komunitas Leica Indonesia diririkan agar para pengguna Leica dapet saling belajar dan berbagi akan keunggulan kamera masing-masing.

Salon ditutup dengan sharing dari  Mamuk Ismuntoro, sosok pendiri komunitas fotografi Matanesia. Bidang Jurnalistik bagi Bapak Mamuk erat sekali kaitannya dengan bidang fotografi, karena sebuah berita kurang mampu menyampaikan pesan tanpa didukung oleh adanya gambar berupa foto-foto penunjang. Untuk itu seorang fotografer jurnalistik harus paham betul terhadap hasil jepretannya agar kemudian dapat diterjemahkan kedalam kata-kata. Bapak Mamuk bercerita banyak mengenai pengalamannya di bidang fotografi jurnalistik. Misalnya kisah ketika beliau bertugas di Aceh yang saat itu sedang terjadi pergolakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saat itu banyak keterbatasan yang harus beliau hadapi. Diantaranya tempat tinggal yang kurang nyaman, tidak adanya fasilitas yang memadai dan nyawanya yang terancam, namun hal-hal tersebut tak jadi soal dan beliau hadapi dengan tegar sebagai wujud integritasnya terhadap tugas yang telah diamanahkan padanya. Karena menurut beliau tanpa adanya seorang wartawan seperti beliau dunia tidak akan tahu seperti apa konflik itu, dan masalah apa yang timbul setelahnya sehingga tidak aka nada yang berusaha menyelesaikan konflik.

Pesan beliau untuk para audience yang ingin memulai karir di bidang fotografi jurnalistik adalah banyak menimba ilmu pengetahuan dari berbagai media dan mengasah skill lain disamping kemampuan fotografi yang baik. Pertama dengan pengetahuan yang luas dan selalu update dengan berita terbaru seseorang dapat mengambil foto dari sudut pandang yang berbeda. Kedua dengan skill tambahan selain kemampuan fotografi maka seseorang akan memiliki kesempatan untuk arena liputan yang lebih besar, misalnya dengan kemampuan Bahasa Inggris seorang wartawan dapat meliput berita sampai ke luar negeri.

#nofilter merupakan salon terakhir sebelum kita memasuki Annual Conference yang bakal diadain Sabtu, 9 Mei 2015 . Bertemakan Singularity, diisi 8 Narasumber sumber yang oke banget serta 2 Featured Talks yang akan melengkapi asiknya Conference ini. Tertarik? Segera Daftarkan dirimu di tedxtugupahlawan.org/singularity  , jangan sampai kehabisan !!

Create New Futures : Singularity University

sulogo200

Setelah seseorang sudah menyelesaikan pendidikan S3 dengan title Summa atau Magna Cumlaude, maka ia akan terjun dimasyarakat untuk mempraktekan ilmunya. Setelah menyelesaikan, tidak ada lagi yang nama nya universitas yang lebih tinggi levelnya yang bisa diikuti. Paling tinggi pun jika menjadi dosen, maka bisa mendapatkan gelar Profesor, atau jika memang sangat sukses, bisa memperoleh gelar tambahan “Dr (dengan huruf “d” kapital) atau Phd Honoris Causa. Bagaimana jika seseorang membuat sebuah universitas yang levelnya diatas S3?

Didukung (lagi-lagi) oleh Google dan NASA, sebuah universitas terbaru diluncurkan tepatnya pada ajang Konfrensi tahunan TED (Technology, Entertainment, and Design) California. Jika memilik actor utamanya, Ray Kurzwell, maka bisa ditebak universitas ini bukan universitas biasa.

Ray sendoro dikenal dengan bukunya yang kontroversial dan inspiratif. Didalam buku tersebut, Ray memprediksi bahwa kekuatan computer dan internet akan menjelma menjadi semacam “Intelegensi Buatan” yang lebih advanced dan menyempurnakan fungsi otak manusia yang terbatas, sehingga masalah-masalah kompleks umat manusia, pada akhirnya bisa dipecahkan.
Mengapa Singularity University levelnya diatas S3? Pertama kerana kurikulumnya yang mewajibkan mahasiswanya untuk menghasilkan karya yang berupa terobosan baru untuk kemajuan teknologi dan umat manusia. Istilah mereka menyebutkan” Leading The Future” atau Rintisan untuk Masa Depan. Universitas ini pun pada dasarnya terbuka bagi siapa saja, siapapun boleh mendaftarnya.

Dengan slogan “Our mission is to assemble, educate and inspire a new generation of leaders who strive to understand and utilize exponentially advancing technologies to address humanity’s grand challenges”, terlihat jelas bahwa Singularity University ini berbasis fokus untuk menghadapi dalam Global Grand Challenge.

Sistem pembelajaraan yang berbeda dari yang lainnya, inilah kenapa Singularity University ini cocok dengan nama Singularity nya tersebut, dengan sistem pembelajaran yang unik dan menarik maka tidaklah mungkin hasil yang keluar pun akan memang hasil yang benar-benar unik, hebat dan belum pernah dipikirkan siapappun.

sekilas tentang SU diambil dari https://fransiskapw.wordpress.com/2012/07/12/sekilas-tentang-singularity-university-nasa-ames-research-park-silicon-valley/
image_banner_GSP

Graduate Studies Program diambil dari : singularityu.org