Independen Film Surabaya

1

Membuat film baginya saat ini adalah energi pendorong baginya. Berawal hanya dari sekedar hobi, Fauzan Abdillah atau lebih dikenal sebagai mas ucan, saat ini telah beberapa kali menulis dan mensutradarai film pendek. Beberapa penghargaan juga telah diraih, namun dirinya terus berupaya untuk turut mengajak generasi muda Surabaya agar berkarya khususnya dalam perfileman.
Menciptakan karya film bukanlah hal yang murah, perlu banyak perencanaan dan biaya. Mulai dari perencanaan pengambilan gambar, penulisan naskah, sewa tempat untuk seting, sewa kamera bahkan sampai dengan paska produksi yang membutuhkan waktu tidak singkat. Belum lagi soal penjualannya. Ah, rasanya berat banget ya bikin film. Tapi Fauzan mencoba meyakinkan kita bahwa jangan sampai ide film kita hanya sekedar terwujud di angan-angan. Wujudkan bagaimanapun caranya. Biayai sendiri misalnya. Pesan inilah yang coba disampaikan oleh Fauzan dan teman-temannya di Independen Film Surabaya atau lebih dikenal dengan Infis.

Infis yang didirikan oleh sineas senior I.G.A.K Satrya WIbawa dkk di tahun 2000 yang lalu ini sudah dikenal sebagai wadah yang mengumpulkan para sineas-sineas muda yang membutuhkan komunitas dalam hal pemasaran film. Komunitas ini berusaha memberikan tempat untuk penayangan film-film yang independen didanai oleh kantong krunya sendiri atau investor skala kecil.

Melalui acara-cara infis yang mengajak masyarakat untuk menonton film independen, Mereka berusaha memberikan apresiasi dari masyarakat terhadap film alternatif. Film-film alternatif yang memiliki rasa sangat berbeda dari film berdana besar seperti di layar lebar. Pemasaran film berupa penayangan atau nonton bareng, menurut Fauzan adalah hal yang penting dilakukan karena untuk sineas-sineas muda, hal tersebut adalah ibarat kayu bakar yang akan terus memanaskan semangat sehingga mereka tidak patah arang untuk terus berkarya. Sineas handal selalu berangkat dari karya indie! Indie adalah elemen yang tidak terpisahkan dari hidup para sineas.

Surabaya meski merupakan sebuah kota Industri, namun ide-ide kreatif warganya tentu saja perlu untuk disampaikan melalui media yang atraktif seperti film. Oleh karena itu di event TEDxTugupahlawan Salon dengan tajuk Beyond ImageNation yang bakal digelar 17 Oktober besok di Forward Factory Spazio. Kami mengundang Fauzan Abdillah untuk untuk mengekspos bagaimana seharusnya sebuah film indie diproduksi dan dikemas sehingga film Indie mampu menjadi karya yang menarik, tidak hanya sebagai karya seni namun juga sebuah karya yang bernilai jual.

Menarik bukan? Makanya buruan daftar!

Menonton film tanpa audio? Pernahkah Anda merasakannya? Mungkin akan terasa hambar bila itu dilakukan dijaman sekarang. Bukan berarti film itu buruk kualitasnya, namun saat ini sudah sangat sulit ditemukan film yang dieksekusi dengan baik bila tanpa audio. Audio itu ibarat pengiring emosi bagi para audiens yang menonton film.

Tentu saja saat ini hampir setiap materi visual bergerak (motion picture) selalu diiringi dengan musik seperti pertunjukan teater. Sehingga musik saat ini menjadi elemen yang tidak terpisahkan dari sebuah film. Nah, karena itulah muncul seniman audio yang berusaha untuk memberikan karya musik yang cocok untuk visual yang diberikan oleh film, seperti Samuel Respati.2

Pemuda asal Surabaya yang sudah berpengalaman membuat musik latar (score) untuk berbagai macam media. Bukan hanya film namun juga iklan, profil perusahaan dan video dokumenter. Dirinya menyebut sebuah score adalah benang-benang yang merajut semua gambar visual dalam film menjadi satu keutuhan. Sebab, menurutnya film tanpa score yang baik akan tidak dinamis bahkan bisa-bisa terasa aneh.

Bayangkan saja bila sebuah film horor diberikan efek suara atau musik pengiring yang bernuansa komedi. Tentu saja akan aneh bukan, bahkan mungin bisa mengubah cerita.

Namun berbicara tentnag film, tentu saja tidak terlepas dari bagaimana film tersebut nantinya dijual. Film bila dijual dengan tepat pasti akan menarik perhatian audiens. Nah, menjual film saat ini lebih umum dilakukan dengan menggunakan sebuah video teaser ataupun trailer yang singkat namun memberikan gambaran tentang bagaimana cerita dari film tersebut nantinya, tanpa memberikan bocoran bagaimana cerita secara penuh sebuah film.

Trailer tidak hanya berbicara tentang bagaimana bercerita namun juga bagaimana bisa menarik perhatian penonton hingga akhirnya mereka tertarik untuk melihat. Sehingga peran seorang desainer seperti Samuel pastinya akan semakin berat karena harus memikirkan dua hal, pemasaran dan emosi cerita yang tentu saja keduanya dipengaruhi oleh musiknya.

Cerita tentang tantangan mengkombinasi antara musik dan trailer inilah yang kemudian menjadi pembahasan yang menarik kami di TEDxTugupahlawan untuk mendatangkan Samuel Respati di acara Salon bertajuk “Beyond ImageNation” tanggal 17 oktober besok. Nantinya Samuel dengan Stoopa Studionya akan menceritakan bagaimana proses komposing dan seperti apa dampaknya pada trailer film termasuk pengalamannya menangani berbagai macam film yang pernah menggunakan score miliknya. Penasaran? Yuk daftar!

3Bikin karya, menghabiskan banyak duit, waktu, keringat bahkan berdarah-darah tapi akhirnya semua karyanya cuma ditonton pacar. Sakit ndak sih? Udah bukan jamannya lagi kita bikin karya tapi cuma bikin sakit hati. Sekarang saatnya untuk bikin film yang bikin penasaran banyak orang, yang bikin orang bilang “wow ternyata… ternyata..” dan diakhiri dengan decak “kerenn.”

Kalau kata mbak yang satu ini, bikin film itu bukan cuma soal teknik aja yang keren tapi juga harus bisa memasarkannya. Bagaimana sineas bisa membuat alat pemasaran yang bikin target audiensnya penasaran dengan karya yang dibuat.

Hafshoh Mubarak, atau lebih dikenal dengan mbak hebs adalah seorang pencerita atau story teller dari Hompimpa Studio. Sebuah studio animasi yang beberapa waktu lalu mendapatkan penghargaan IFTA (Indonesia Film Trailer Award) melalui Trailer dari karya web series Gobs and Friend.

4Mbak hebs yang memiliki darah seniman teater ini sudah banyak pengalaman tentang bagaimana Hompimpa Studio menjual karya-karyanya ke berbagai macam pihak. Mulai dari mendapatkan investor dan produser untuk produksi sampai dengan mencari pembeli. Pengalamannya ditolak banyak televisi sampai dengan karya timnya di rendahkan pernah dirasakan. Namun nyatanya karya Hompimpa Studio terbukti menjadi salah satu yang terbaik dengan mendapatkan penghargaan.

Menurut Hebs, membuat karya film ataupun animasi sama saja. Mungkin secara teknis berbeda namun secara prinsip tetap sama. Meski sama-sama karya konten dan kreatif, menurutnya sebuah Production House ataupun Studio harus bekerja layaknya sebuah perusahaan yang mampu untuk menjual karya, telebih menghidupkan karakter dari karya tersebut dan menjualnya dalam bentuk royalti misalnya.

Selain itu si penjual juga harus memiliki keterikatan dengan karya yang dijual. Menurut Hebs inilah bedanya ketika mereka memutuskan untuk tidak merekrut marketing baru dan memutuskan untuk setiap tim berperan sebagai ‘penjual’ karya hompimpa studi. Yuk daftar!

Nah, betapa pentingnya selling ini kemudian bergantung pada sebuah materi ringkas dari sebuah karya film yang pada umumnya berupa teaser dan trailer. Disinilah kemudian pembuatan trailer menjadi menarik karena harus appealing, namun tetap tidak membocorkan isi cerita secara keseluruhan. Bagaimana caranya? Ayo daftar di event TEDxTugupahlawan Salon “Beyond ImageNation” tanggal 17 Oktober besok di Forward Factory Spazio.
Kita akan banyak mengulas dan diskusi dengan Hebs tentang story telling sekaligus soal sebuah trailer film yang menjual.